| No. |
Tadzkirah |
| 1. |
Orang mukmin itu bukanlah yang tidak berbuat maksiat, akan tetapi orang mukmin adalah apabila ia berbuat maksiat, ia segera bertaubat kepada Allah. (Mustafa Assiba'i) |
| 2. |
Barangsiapa yang mengenal Tuhan, akan melihat seluruh yang ada dalam kehidupan dengan indah. (Mustafa Assiba'i) |
| 3. |
Tidak akan menyesal seorang hamba yang taat kepada Allah, dan tidak kan merugi seorang hamba yang berhenti pada batasan-batasan Allah, dan tidak akan hina seorang hamba yang memuliakan dirinya dengan taqwa. (Mustafa Assiba'i) |
| 4. |
Jangan berlebihan dalam mencintai dan membenci, kadang-kadang teman berbalik menjadi musuh dan musuh berbalik menjadi teman. (Mustafa Assiba'i) |
| 5. |
Sakit dapat menjadi "sekolah pendidikan" yaitu apabila orang yang sakit bisa mengambil manfaat dari sakitnya niscaya akan menjadi nikmat bukan bencana. |
| 6. |
Jika kamu menginginkan kegembiraan dalam kehidupan maka perhatikanlah kesehatanmu, jika kamu menginginkan kebahagiaan dalam kehidupanmu maka perhatikanlah akhlakmu, jika kamu menginginkan kekekalan dalam kehidupan maka perhatikanlah akalmu, jika kamu menginginkan itu semua maka perhatikanlah agamamu. |
| 7. |
Orang-orang yang keliru memahami agama lebih berbahaya dari pada orang-orang yang melanggar ajarannya. Karena mereka melakukan maksiat terhadap Allah dan menjauhkan manusia dari agama. Mereka menduga apa yang dilakukannya sebagai bentuk taqarub/pendekatan kepada Allah, padahal sebenarnya mereka mengikuti hawa nafsu dan mengetahui apa yang dilakukannya sebagai bentuk kemaksiatan tetapi mereka tetap enggan bertaubat dan memohon ampun kepada Allah. |
| 8. |
Obat "luka" adalah keimanan pada qadha dan qadhar. (Mustafa Assiba'i) |
| 9. |
Suami akan bahagia apabila istrinya menjadi penolong tatkala menghadapi kesulitan. (Mustafa Assiba'i) |
| 10. |
Sebagian kerusakan peradaban saat ini adalah menamakan kelicikan dengan kecerdasan, pendudukan/penjajahan dengan kebebasan, jijik dengan seni dan eksploitasi dengan bantuan. (Mustafa assiba'i) |
| 11. |
Mabrur Tanpa Haji
Tersebutlah dalam satu kisah sufi, seseorang yang sedang menunaikan ibadah haji terlelap saat wukuf di tengah teriknya matahari di Padang Arafah. Dalam tidurnya ia bermimpi berjumpa Rasulullah Saw.
Mimpi itu memberinya harapan bahwa hajinya mabrur. Bagaimana tidak, sampai-sampai Rasul pun ??menemuinya??.
Untuk memastikan, ia lalu memberanikan diri bertanya kepada Rasulullah, "Ya Rasul, siapakah yang diterima hajinya sebagai haji mabrur?"
Nabi Muhammad Saw, seraya menarik napas dalam-dalam, menjawab, "Tak seorangpun dari jamaah haji ini yang diterima hajinya, kecuali tukang cukur tetanggamu."
Sang haji tersentak kaget. Betapa tidak, ia tahu persis tetangganya itu miskin. Dan seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini pun ia tak mampu menunaikan ibadah haji.
Dengan perasaan sedih dan dada sesak, ia terbangun dari tidurnya. Sepanjang wukuf, ia mengintrospeksi diri, memikirkan dalam-dalam apa arti di mimpi tadi.
Penasaran, sekembali dari Mekah ia segera menemui tetangganya si tukang cukur. Ia menceritakan segala pengalamannya selama menunaikan ibadah haji. Tapi cerita yang paling ingin disampaikan adalah perihal tukang cukur itu sendiri yang disebut-sebut Nabi dalam mimpinya.
Dengan sikap keheranan, Pak Haji bertanya, "Amalan apa yang telah Anda lakukan sehingga Anda dianggap telah melakukan haji mabrur?"
Tetangganya semula juga bingung. Tapi ia lalu teringat pada kegagalannya berangkat haji tahun ini.
Sebenarnya, tukang cukur itu telah lama bercita-cita naik haji, seperti tetangganya yang bolak-balik ke Mekah. Untuk itu, bertahun-tahun ia mengumpulkan biaya yang disisihkan dari hasil profesinya. Alhamdulillah, tabungan itu akhirnya cukup untuk biaya naik haji tahun ini.
Namun, ketika ia bersiap ke Mekah, seorang anak yatim tetangganya tertimpa musibah yang hampir merenggut jiwanya. Tukang cukur sempat bimbang, antara tetap pergi haji atau menolong si anak yatim. Tapi akhirnya dia berketetapan menyumbangkan hampir seluruh tabungan hajinya untuk membiayai pengobatan anak yatim tersebut. Dan, gagal lah dia naik haji.
Namun, pilihannya tidak keliru. Atas niat baik dan keikhlasan serta pengorbanannya, ia beroleh predikat mabrur tanpa pergi haji.
Berkunjung ke Baitullah, kiranya menjadi cita-cita setiap muslim. Bahkan nikmatnya menjadi tamu Allah kelewat sayang untuk tak diulang bila ada uang.
Namun, Ibnu Abbas berwasiat, ??Membelanjakan hartaku untuk memberi makan satu keluarga muslim selama sebulan, jauh lebih aku sukai ketimbang berhaji berkali-kali??? (Abu Nuaim dalam Al Hilyah I).
Maka, pada sebuah wukuf di Padang Arafah, Abdullah Gymnastiar dalam taushiyah-nya berpesan:
??Karena itu, saudaraku yang hadir di bumi Arafah ini, hari ini adalah hari buat kita untuk bersyukur. Bisa jadi kita hadir di tempat ini bukan karena kesalehan kita. Kehadiran kita di sini mungkin karena ridho Allah atas orang-orang yang kita sakiti yang mereka balas sakit hatinya dengan doa kemuliaan bagi kita.
Mungkin kita berada di tempat ini berkat doa fakir miskin yang kita lempar dengan uang seratus rupiah tapi mereka menerimanya dengan ridha dan memohon kepada Allah agar mengampuni kita. Mungkin kita berada di tempat ini berkat doa para pembantu yang tidak pernah kita hargai jasa baiknya tetapi mereka sabar bangun malam dan meminta kita diberi hidayah. Mungkin kita berada di tempat ini karena doa orangtua kita yang tiada henti-hentinya agar memiliki anak yang saleh dan salihah, padahal begitu sering kita melukai hatinya. Atau mungkin kita berada di tempat ini karena doa anak-anak kita yang sering dikecewakan dengan contoh buruk yang kita lakukan sehingga mereka meminta kepada Allah agar memiliki orangtua yang saleh dan salihah.
Tidak ada jalan bagi kita untuk menjadi sombong dan takabur dengan jamuan Allah di Arafah ini, kecuali kita harus malu dan jujur kepada diri sendiri. Harta yang Allah titipkan kepada kita, tak jarang kita nafkahkan sekadar sisa dari uang jajan kita. Zakat enggan kita bayarkan. Sedekah bagi orang yang paling lusuh dengan cara yang paling memalukan. Bahkan kita lebih suka membelikan barang-barang mahal untuk kita pamerkan kepada makhluk daripada menafkahkan harta di jalan Allah untuk bekal kepulangan kita.
Saudara-saudaraku sekalian.
Sepulang dari sini tidak pernah akan bahagia kecuali orang yang paling menikmati berkorban untuk orang lain. Yakinkanlah bahwa apapun yang kita miliki agar bermanfaat sebanyak-banyaknya bagi hamba Allah. Sebaik-baik manusia adalah orang yang banyak manfaatnya.??
|
| 12. |
Suatu hari salah seorang dari tetangga Abu Darda' RA (salah seorang sahabat Rasulullah SAW) berlari melaporkan berita pada Abu Darda' yang tengah berada di pasar bahwa terjadi kebakaran di lingkungan tempat mereka tinggal dan rumah Abu Darda' ikut pula terbakar. Abu Darda' menjawab dengan tenang "Tidak, rumahku tidak terbakar." Tak lama datang pula seorang tetangga beliau yang lain mengabarkan kabar yang sama. Abu Darda' menjawab dengan jawaban yang sama. Begitu pula ketika datang tetangga yang lain menyampaikan hal serupa. Kemudian Abu Darda' pergi bersama mereka untuk melihat kebakaran tersebut. Di tempat kebakaran, mereka menjumpai rumah2 di lingkungan mereka tinggal semuanya terbakar kecuali rumahnya Abu Darda'.
Abu Darda' berkata: "Aku yakin Allah SWT tidak akan membiarkan rumahku terbakar, karena aku mendengar dari Rasulullah SAW bahwa setiap orang yang membaca suatu doa pada pagi hari akan terhindar dari marabahaya sepanjang hari, dan yang membacanya pada malam hari akan terhindar dari marabahaya sepanjang malam. Dan aku membaca doa tersebut pagi ini."
Abu Darda' menjelaskan doa yang diajarkan Rasulullah SAW tersebut:
"Allahumma anta rabbi, la ilaha illa anta,
`alaika tawakkaltu wa anta abbul `arsyil karim.
Masya Allahu kana wa malam yasya' lam yakun
wa la hawla wa la quwwata illa billahil-`aliyyil `azhim.
A'lamu annallaha `alaa kulli syai'in qadir
wa annallaha qad ahatha bikulli syai'in `ilma.
Allahumma inni a'dzu bika min syarri nafsi
wa min syarri kulli dabbatin, anta akhidzum bi nasiyatiha.
Inna rabbi `ala shiratim-mustaqim."
("Oh Allah, Engkau Tuhanku, tidak ada Tuhan selain Engkau
Hanya kepada Engkau aku bertawakal dan Engkaulah Tuhan 'Arsy yang agung.
Apa yang Engkau kehendaki akan terjadi, dan apa yang Engkau tidak kehendaki tidak akan terjadi.
Tidak ada daya dan upaya kecuali dari Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung.
Aku mengakui bahwa sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu
dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya meliputi segala sesuatu.
Oh Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari keburukan diriku
dan dari keburukan segala makhluk yang semuanya berada dalam kekuasaan-Mu.
Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus.")
Amin ya Rabbal 'alamin...
|